Sabtu, 07 Desember 2019

5 Jenis Laporan Keuangan Dalam Akuntansi yang Harus Anda Ketahui

5 Jenis Laporan Keuangan Dalam Akuntansi yang Harus Anda Ketahui

Standarnya, dalam akuntansi ada beberapa jenis laporan keuangan yang harus diketahui yaitu:

Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Laporan pertama yang akan kita bahas adalah laporan laba rugi. Dari namanya saja, anda tentu tahu bahwa laporan ini berfungsi untuk memperlihatkan apakah perusahaan mengalami kerugian atau keuntungan dalam satu periode keuangan.

Selain untuk mengetahui keuntungan atau kerugian, laporan laba rugi dibuat untuk menginformasikan jumlah pajak yang harus dibayar oleh perusahaan, menjadi referensi evaluasi bagi manajemen perusahaan dan juga menyediakan informasi tentang efisien atau tidaknya langkah yang diambil oleh perusahaan dilihat dari besar beban yang dikeluarkan.

Pada dasarnya jenis laporan laba rugi terdiri dari dua bentuk yaitu:
  1. Single Step

Untuk bentuk single step ini, alur dan juga pengelompokan akun lebih mudah. Hal ini karena semua pendapatan dan keuntungan ditempatkan di awal laporan laba rugi. Kemudian diikuti dengan seluruh beban atau biaya yang harus dikeluarkan atau ditanggung oleh perusahaan. Nah, selisih antara total pendapatan dan total beban inilah yang menunjukkan apakah perusahaan untung atau rugi.

  1. Multiple Step

Nah, untuk laporan laba rugi berbentuk multiple step, anda harus memisahkan transaksi operasional dan non-operasional serta membandingkan biaya dan beban dengan pendapatan yang berkaitan. Pada laporan laba rugi bentuk ini, laba operasional akan memperlihatkan perbedaan antara aktivitas biasa dan aktivitas insidentil.

Secara umum ada 2 elemen yang masuk dalam laporan laba rugi yaitu semua jenis pendapatan dan kerugian. Kemudian dalam laporan laba rugi ini ada beberapa pembagian pos laba atau rugi yaitu laba/rugi kotor, laba/rugi operasi, laba/rugi sebelum pajak, laba/rugi bersih dan laba/rugi dari operasi berjalan.

Laporan Perubahan Modal

Di awal pembentukan atau pendirian perusahaan tentu akan selalu ada modal awal yang menjadi langkah pertama perusahaan beroperasi. Nah, jumlah modal awal ini pasti berubah sesuai dengan kinerja perusahaan. Misalkan perusahaan dalam periode tertentu mengalami kerugian, maka modal yang digunakan oleh perusahaan bisa berkurang. Sebaliknya jika perusahaan mendapat laba maka modal akan bertambah.

Jadi secara umum, laporan perubahan modal akan menyediakan informasi terkait jumlah modal yang dimiliki oleh sebuah perusahaan dalam periode tertentu. Dalam laporan ini, anda bisa melihat perubahan yang terjadi pada modal sekaligus dengan penyebab perubahan yang terjadi. Beberapa data khusus yang diperlukan untuk menyusun laporan perubahan modal adalah modal awal periode, pengambilan dana pribadi oleh pemilik dalam periode yang bersangkutan dan juga total laba atau rugi bersih perusahaan dalam periode yang terkait. Mengingat, untuk menyusun laporan perubahan modal dibutuhkan data laba rugi, maka jelas laporan ini dibuat setelah laporan laba rugi.

Neraca (Balance Sheet)

Dalam akuntansi, neraca lebih dikenal dengan nama balance sheet. Secara umum, laporan ini dibuat untuk menunjukkan kondisi, posisi dan informasi keuangan sebuah perusahaan pada periode tertentu. Penyusunan laporan neraca ini membuat anda bisa melihat beberapa data penting seperti jumlah aset perusahaan, kewajiban (hutang/liabilitas) dan ekuitas (modal) perusahaan.

Jadi secara keseluruhan ada 3 elemen yang dimiliki oleh neraca yaitu aset, liabilitas dan ekuitas. Jika kita kembali ke pemahaman dasar akuntansi maka bisa kita simpulkan bahwa laporan neraca ini sangat berhubungan dengan rumus dasar akuntansi yaitu

Aset = Liabilitas + Ekuitas

Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement)

Laporan arus kas juga dikenal dengan nama laporan cash flows. Laporan ini dibuat untuk menunjukkan aliran masuk dan keluar kas perusahaan pada periode tertentu. Selain itu, laporan arus kas juga difungsikan sebagai indikator jumlah arus kas di periode yang akan datang. Laporan arus kas juga digunakan sebagai salah satu alat pertanggungjawaban arus kas masuk dan keluar selama periode pelaporan.

Contoh alur kas masuk bisa dilihat dari hasil atau pendapatan kegiatan operasional atau pinjaman. Kemudian untuk alur kas keluar bisa dilihat dari beban biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk kegiatan investasi dan operasional.

Catatan Atas Laporan Keuangan

Nah, jenis laporan keuangan terakhir yang harus anda ketahui adalah catatan atas laporan keuangan. Jenis laporan ini mungkin masih asing untuk anda karena faktanya beberapa orang lebih fokus pada 4 laporan keuangan lain. Padahal laporan keuangan yang satu ini sangat penting dan bisa membantu anda untuk lebih memahami laporan keuangan secara keseluruhan.

Catatan atas laporan keuangan ini dibuat untuk memberikan penjelasan yang lebih rinci terkait dengan hal-hal yang tertera dalam ke-4 laporan keuangan lainnya. Bahkan dalam laporan keuangan ini juga disediakan penyebab atau alasan yang berkaitan dengan data yang tersaji dalam laporan keuangan.

Penyusunan Anggaran

PENYUSUNAN ANGGARAN


Anggaran merupakan implementasi dari rencana dari rencana strategi yang telah ditetapkan.

Penyusunan anggaran adalah Proses pengoperasionalan rencana dalam bentuk pengkuantifikasian, biasanya dalam unit moneter, untuk kurun waktu tertentu.

Anggaran merupakan rencana yang diungkapkan secara kuantitatif dalam unit moneter untuk periode satu tahun.

Karakteristik Anggaran :
1. Anggar dan mengestimasi  tingkat laba potensial dari suatu unit usaha
2. Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan, walaupun satuan keuangan tersebut dibantu dengan data non keuangan (misal jumlah unit yang dijual atau diproduksi)
3. Anggaran umumnya meliputi periode satu tahun
4. Anggaran merupakan komitmen manajemen
5. Usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh pejabat yang lebih tinggi dari penyusun anggaran
6. Anggaran yang telah disusun hanya dapat dirubah jika terjadi kondisi khusus
7. Secara periodic, dilakukan analisis selisih antara anggaran dengan sesungguhnya dan dijelaskan 

Kegunaan anggaran :
1. Memperjelas rencana strategi 
2. Membantu koordinasikan kegiatan beberapa  bagian dari suatu organisasi
3. Melimpahkan tanggung jawab kepada manajer
4. Memperoleh kesepakatan bahwa anggaran merupakan dasar penilaian kinerja manajer

Isi anggaran :
1. Anggaran pendapatan
2. Anggaran Biaya produksi dan Biaya penjualan
3. Anggaran biaya pemasaran
4. Anggaran Biaya Adiministrasi dan Umum
5. Anggaran litbang
6. Anggaran lainnya : anggaran modal, anggaran neraca, anggaran aliran kas

Proses penyusunan anggaran :
1. Menerbitkan pedoman penyusunan anggaran oleh staf anggaran yang disetujui manajer puncak
2. Membuat proposal anggaran permulaan oleh masing2 manajer pusat pertanggungjawaban
3. Negosiasi, yaitu mendiskusikan anggaran yang diusulkan
4. Slack, yaitu perbedaan Karena menurunkan tingkat penjualan atau menaikkan  biaya
5. Review dan persetujuan oleh CEO/ Dewan direktur
6. Revisi anggaran, baik secara sistematis maupun kondisi khusus

Pengertian dan contoh Analisis SWOT

Pengertian dan contoh Analisis SWOT

Pengertian dan contoh Analisis SWOT – SWOT adalah singkatan dari Strength, Weakness, Opportunities, dan Threats. Seperti namanya, Analisis SWOT merupakan suatu teknik perencanaan strategi yang bermanfaat untuk mengevaluasi Kekuatan (Strength) dan Kelemahan (Weakness), Peluang (Opportunities)  dan Ancaman (Threats) dalam suatu proyek, baik proyek yang sedang berlangsung maupun dalam perencanann proyek baru. Analisis SWOT bukan hanya dapat digunakan dalam bisnis, tetapi juga dapat digunakan pada pribadi kita sendiri dalam pengembangan karir.
Analisis SWOT pertama kali diperkenalkan oleh Albert S Humphrey pada tahun 1960-an dalam memimpin proyek riset di Stanford Research Institute yang menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune 500.

4 Komponen Dasar Analisis SWOT

  • Strength (Kekuatan) atau disingkat dengan “S”, yaitu karakteristik organisasi ataupun proyek yang memberikan kelebihan / keuntungan dibandingkan dengan yang lainnya.
  • Weakness (Kelemahan) atau disingkat dengan “W”, yaitu karakteristik yang berkaitan dengan kelemahan pada organisasi ataupun proyek dibandingkan dengan yang lainnya.
  • Opportunities (Peluang) atau disingkat dengan “O”, yaitu Peluang yang dapat dimanfaatkan bagi organisasi ataupun proyek untuk dapat berkembang di kemudian hari.
  • Threats (Ancaman) atau disingkat dengan “T”, yaitu Ancaman yang akan dihadapi oleh organisasi ataupun proyek yang dapat menghambat  perkembangannya.
Dari keempat komponen dasar tersebut, Strength (kekuatan) dan Weakness (Kelemahan) adalah faktor internal organisasi/proyek itu sendiri, sedangkan Oppoturnities (Peluang) dan Threats (Ancaman) merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan organisasi ataupun proyek. Oleh karena itu, Analisis SWOT juga sering disebut dengan Analisis Internal-Eksternal (Internal-External Analisis) dan Matriks SWOT juga sering dikenal dengan Matrix IE (IE Matrix).

Cara Menggunakan Analisis SWOT

Untuk melakukan Analisis SWOT, kita perlu membuat beberapa pertanyaan dan menjawabnya sendiri seperti contoh-contoh berikut ini :

Strength (Kekuatan)

  • Kelebihan apa yang dimiliki oleh organsiasi ?
  • Apa yang membuat organisasi lebih baik dari organisasi lainnya?
  • Keunikan apa yang dimiliki oleh organisasi ?
  • Apa yang menyebabkan kita mendapatkan penjualan ?
  • Apa yang dilihat atau dirasakan oleh konsumen kita sebagai suatu kelebihan ?

Weakness (Kelemahan)

  • Apa yang dapat ditingkatkan dalam organisasi ?
  • Apa yang harus dihindari oleh organisasi ?
  • Faktorapa yang menyebabkan kehilangan penjualan ?
  • Apa yang dilihat atau dirasakan oleh konsumen kita sebagai suatu kelemahan organisasi kita ?
  • Apa yang dilakukan oleh pesaing sehingga mereka dapat lebih baik dari organisasi kita ?

Opportunities (Peluang)

  • Kesempatan apa yang dapat kita lihat ?
  • Perkembangan tren apa yang sejalan dengan organisasi kita ?

Threats (Ancaman)

  • Hambatan apa yang kita hadapi sekarang ?
  • Apa yang dilakukan oleh pesaing organisasi ?
  • Perkembangan Teknologiapa yang menyebabkan ancaman bagi organisasi ?
  • Adakah perubahan peraturan pemerintah yang akan mengancam perkembangan organisasi ?

    Faktor yang Mempengaruhi Analisis SWOT

    Faktor-faktor yang mempengaruhi keempat komponen dasar Analisis SWOT diantaranya adalah :

    Faktor Internal (Strength dan Weakness)

    • Sumber daya yang dimiliki
    • Keuangan atau Finansial
    • Kelebihan atau kelemahan internal organisasi
    • Pengalaman-pengalaman organisasi sebelumnya (baik yang berhasil maupun yang gagal)

    Faktor Eksternal (Opportunities dan Threats)

    • Tren
    • Budaya, Sosial Politik, Ideologi, perekonomian
    • Sumber-sumber permodalan
    • Peraturan Pemerintah
    • Perkembangan Teknologi
    • Peristiwa-peristiwa yang terjadi
    • Lingkungan

    Contoh Analisis SWOT

    Berikut ini adalah contoh sederhana dalam melakukanAnalisis SWOT dalam suatu mengevaluasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman suatu perusahaan.

    Strength (Kekuatan)

    • Kami dapat merespon dengan cepat setiap permintaan pelanggan tanpa harus melalui birokrasi yang panjang.
    • Kami memiliki biaya overhead yang rendah, sehingga dapat memberikan tawaran harga yang paling baik bagi pelanggan kami.
    • Kami sangat memperhatikan setiap permintaan dan kebutuhan pelanggan.
    • Kami sangat fleksibel dalam menangani setiap kasus dan permintaan pelanggan.
    • Kami memiliki reputasi yang baik pada market yang tekuni.

    Weakness (Kelemahan)

    • Staff kami masih memiliki kemampuan yang rendah dibidang-bidang tertentu.
    • Perusahaan kami memiliki keterbatasan dalam permodalan.
    • Cash flow kadang-kadang tidak lancar.
    • Lokasi kantor yang letaknya di tempat yang kurang strategis.

    Opportunities (Peluang)

    • Sektor yang kami tekun ini sedang mengalami kenaikan
    • Pemerintah sangat mendukung perusahaan lokal seperti kami

    Threats (Ancaman)

    • Perkembangan Teknologi yang cepat di market ini yang berada di luar kemampuan kami akan menyebabkan kami terlambat dalam mengadopsinya.
    • Perubahan strategi pesaing dapat mengancam posisi kami di market.
    • Kurangnya minat perbankan dalam membiayai pendanaan untuk industri yang kami tekuni saat ini.

Inflasi: Pengertian, Penyebab, Rumus Menghitung, dan Dampaknya ke Ekonomi RI

Inflasi: Pengertian, Penyebab, Rumus Menghitung, dan Dampaknya ke Ekonomi RI

Definisi Inflasi



InflasiDefinisi Inflasi
Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia (BI), inflasi secara sederhana diartikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Nah kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengartikan inflasi sebagai kecenderungan naiknya harga barang dan jasa, pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Jika harga barang dan jasa di dalam negeri meningkat, maka inflasi mengalami kenaikan.
Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai uang. Dengan demikian, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.

Faktor Penyebab Terjadinya Inflasi 

InflasiFaktor Penyebab Terjadinya Inflasi
Kenaikan harga barang terus menerus atau inflasi terjadi bukan tanpa sebab. Secara umum, ada beberapa faktor penyebab terjadinya inflasi, antara lain:
1. Meningkatnya jumlah permintaan atau demand pada suatu jenis barang tertentu. Saat permintaan naik, namun stok atau suplai terbatas, pasti akan terjadi lonjakan harga.   
2. Biaya produksi sebuah barang atau jasa mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan harga bahan baku maupun upah pekerja. Dari situlah, produsen akan mengambil tindakan mengerek harga jual barang atau jasa.
3. Saat jumlah uang yang beredar di masyarakat cukup tinggi. Ketika jumlah uang yang ada di masyarakat meningkat hingga dua kali lipat, harga barang pun akan mengalami peningkatan yang setara. Hal ini disebabkan karena kenaikan daya beli masyarakat, tetapi stok barang tetap statis.

Jenis-jenis Inflasi

InflasiJenis-jenis Inflasi
Adapun jenis-jenis inflasi, antara lain:
1. Inflasi dilihat dari tingkat keparahan.
  • Inflasi ringan. Kenaikan harga barang masih di bawah angka 10% dalam setahun
  • Inflasi sedang. Kenaikan harga hingga 30% per tahun
  • Inflasi tinggi. Kenaikan harga barang atau jasa berkisar 30%-100%
  • Hiperinflasi. Kenaikan harga barang melampaui angka 100% per tahun. Dalam situasi tersebut, kebijakan fiskal dan moneter dari otoritas seringkali tak memberi dampak signifikan.
2. Inflasi berdasarkan asalnya, dapat digolongkan menjadi 2, yaitu:
  • Inflasi yang berasal dari domestik (domestic inflation)
Penyebabnya meningkatnya jumlah uang beredar di masyarakat, kenaikan harga barang atau jasa, permintaan masyarakat tinggi, suplai terganggu atau terbatas, biaya produksi naik, dan masih banyak lainnya.
  • Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation)
Penyebabnya harga barang-barang impor atau yang berasal dari luar negeri semakin mahal karena kenaikan harga di negara asalnya.

Cara Menghitung Tingkat Inflasi

InflasiRumus Menghitung Inflasi
Inflasi di suatu negara dapat dihitung berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), Indeks Biaya Hidup, dan Indeks Harga Produsen. Rumus menghitung inflasi berdasarkan IHK adalah:
Pit adalah harga barang pada periode tertentu, Qit adalah bobot barang pada periode tertentu, Pio adalah harga barang pada periode dasar, dan Qio adalah bobot barang pada periode dasar.
Setelah mendapatkan nilai IHK, baru nilai inflasi dapat diketahui dengan menggunakan rumus:
Inflasi = (IHK periode 1- IHK periode 2) / IHK periode 2) x 100
Dengan menggunakan rumus tersebut, nilai inflasi dalam suatu negara dapat diketahui dengan tepat. Jadi, saat nilai inflasi berada pada tingkat yang melebihi target, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dapat mengambil langkah tepat agar inflasi tidak semakin memburuk.

Dampak Inflasi Terhadap Perekonomian 

Inflasi
Dampak Inflasi Terhadap Perekonomian
Inflasi memiliki dampak cukup signifikan bagi perekonomian suatu negara, antara lain:
1. Inflasi dapat menggerus daya beli masyarakat. Kalau daya beli turun, masyarakat jadi irit belanja. Padahal motor penggerak ekonomi Indonesia masih ditopang konsumsi masyarakat. Jika masyarakat mengurangi belanja, otomatis pertumbuhan ekonomi nasional akan bergerak ke lambat atau stagnan, bahkan lebih rendah.
2. Inflasi tentu saja merugikan konsumen karena gaji atau penghasilan stagnan, tapi pengeluaran atau belanja membengkak lantaran kenaikan harga barang atau jasa yang menjadi kebutuhan utama.
3. Inflasi juga mempengaruhi kemampuan ekspor sebuah negara. Akibat inflasi, biaya ekspor jadi lebih mahal dan daya saing produk ekspor menurun. Akhirnya devisa jadi berkurang.
4. Inflasi akan mengurangi minat orang menabung di bank. Penyebabnya bunga simpanan tabungan yang kecil tergerus inflasi. Apalagi menabung di bank juga mengeluarkan biaya administrasi setiap bulan, sehingga bunga yang diperoleh nasabah makin minim, bahkan nyaris tak terasa.
5. Inflasi dapat mempengaruhi kestabilan mata uang rupiah. Kestabilan kurs rupiah mengandung dua aspek, yakni kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua berkaca pada perkembangan kurs rupiah terhadap mata uang negara lain.

Peran Pemerintah, BI, dan Masyarakat dalam Mengatasi Inflasi

Inflasia
Dalam mengatasi laju inflasi, biasanya pemerintah dan BI memiliki target tahunan. Tahun ini, inflasi dijaga pada level 3,5 plus minus 1%. Otoritas fiskal dan moneter ini bersinergi dengan mengeluarkan jurus-jurus pengendalian inflasi.
Sebagai contoh, pertama sinergi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan koordinasi komunikasi yang efektif. Kedua, adaptasi dalam inovasi, dan ketiga, pengembangan bisnis model kerja sama perdagangan antar daerah, serta strategi lainnya.  
Masyarakat juga dapat berperan dalam menjaga inflasi. Salah satunya tidak berlebihan atau memborong sembako. Misalnya saat produksi bawang putih merosot, harga melonjak, kemudian masyarakat panik dan akhirnya membeli dalam jumlah banyak.






Inflasi: Pengertian, Penyebab, Rumus Menghitung, dan Dampaknya ke Ekonomi RI

   
Saban tahun, buruh selalu menuntut kenaikan upah. Kemudian pemerintah mengerek upah di berbagai daerah dengan perhitungan pertumbuhan ekonomi ditambah inflasi. Apa sih inflasi itu?
Pasti pernah dong lihat atau merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok maupun barang-barang di pasar secara terus menerus. Contohnya saja cabai saat ini yang terus merangkak naik hingga menyentuh Rp100 ribu per kilogram (kg).
Lonjakan harga cabai tersebut disebabkan karena musim kemarau panjang sehingga produksi turun. Sementara permintaan masyarakat cukup tinggi. Kenaikan harga cabai ini bisa menjadi penyumbang inflasi.
Tentu saja dari kenaikan harga sembako, kebutuhan pokok, maupun barang atau jasa lain, sejumlah pihak dirugikan, seperti pedagang kecil dan konsumen. Dampak besar dari inflasi yang liar dapat mempengaruhi perekonomian suatu negara. Tak heran, pemerintah bakal mati-matian menjaga laju inflasi agar tetap terkendali.
Kalau mau tahu penjelasan soal inflasi dan pengaruhnya terhadap ekonomi suatu bangsa, berikut ulasannya seperti dirangkum Cermati.com dari berbagai sumber:

Definisi Inflasi

InflasiDefinisi Inflasi
Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia (BI), inflasi secara sederhana diartikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Nah kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengartikan inflasi sebagai kecenderungan naiknya harga barang dan jasa, pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Jika harga barang dan jasa di dalam negeri meningkat, maka inflasi mengalami kenaikan.
Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai uang. Dengan demikian, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Yakni indeks yang menghitung rata-rata perubahan harga dari suatu paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga dalam kurun waktu tertentu.
Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang dan jasa. Penentuan barang dan jasa dalam keranjang IHK dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilakukan BPS.
Kemudian BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di 82 kota seluruh Indonesia, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang atau jasa di setiap kota.
Inflasi yang diukur IHK dikelompokkan ke 7 kelompok pengeluaran, yakni:
1. Kelompok bahan makanan
2. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau
3. Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar
4. Kelompok sandang
5. Kelompok kesehatan
6. Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga
7. Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
Kenaikan harga barang atau jasa secara kontinyu dapat membuat daya beli masyarakat turun. Gaji atau penghasilan yang mereka dapat tidak akan cukup membeli kebutuhan hidup. Sebagai contoh biasanya emak-emak bisa membeli 1 kg cabai, begitu harga cabai melonjak, mereka mengurangi pembelian jadi setengah kilo saja.
Biasanya inflasi di Indonesia akan tinggi menjelang Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, atau terganggunya produksi akibat cuaca, dan momen lainnya. Kalau tidak ada upaya dari pemerintah, inflasi tersebut akan cenderung bergerak tak terkendali.
Promo BNI Griya

Faktor Penyebab Terjadinya Inflasi 

InflasiFaktor Penyebab Terjadinya Inflasi
Kenaikan harga barang terus menerus atau inflasi terjadi bukan tanpa sebab. Secara umum, ada beberapa faktor penyebab terjadinya inflasi, antara lain:
1. Meningkatnya jumlah permintaan atau demand pada suatu jenis barang tertentu. Saat permintaan naik, namun stok atau suplai terbatas, pasti akan terjadi lonjakan harga.   
2. Biaya produksi sebuah barang atau jasa mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan harga bahan baku maupun upah pekerja. Dari situlah, produsen akan mengambil tindakan mengerek harga jual barang atau jasa.
3. Saat jumlah uang yang beredar di masyarakat cukup tinggi. Ketika jumlah uang yang ada di masyarakat meningkat hingga dua kali lipat, harga barang pun akan mengalami peningkatan yang setara. Hal ini disebabkan karena kenaikan daya beli masyarakat, tetapi stok barang tetap statis.

Jenis-jenis Inflasi

InflasiJenis-jenis Inflasi
Adapun jenis-jenis inflasi, antara lain:
1. Inflasi dilihat dari tingkat keparahan.
  • Inflasi ringan. Kenaikan harga barang masih di bawah angka 10% dalam setahun
  • Inflasi sedang. Kenaikan harga hingga 30% per tahun
  • Inflasi tinggi. Kenaikan harga barang atau jasa berkisar 30%-100%
  • Hiperinflasi. Kenaikan harga barang melampaui angka 100% per tahun. Dalam situasi tersebut, kebijakan fiskal dan moneter dari otoritas seringkali tak memberi dampak signifikan.
2. Inflasi berdasarkan asalnya, dapat digolongkan menjadi 2, yaitu:
  • Inflasi yang berasal dari domestik (domestic inflation)
Penyebabnya meningkatnya jumlah uang beredar di masyarakat, kenaikan harga barang atau jasa, permintaan masyarakat tinggi, suplai terganggu atau terbatas, biaya produksi naik, dan masih banyak lainnya.
  • Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation)
Penyebabnya harga barang-barang impor atau yang berasal dari luar negeri semakin mahal karena kenaikan harga di negara asalnya.

Cara Menghitung Tingkat Inflasi

InflasiRumus Menghitung Inflasi
Inflasi di suatu negara dapat dihitung berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), Indeks Biaya Hidup, dan Indeks Harga Produsen. Rumus menghitung inflasi berdasarkan IHK adalah:
Pit adalah harga barang pada periode tertentu, Qit adalah bobot barang pada periode tertentu, Pio adalah harga barang pada periode dasar, dan Qio adalah bobot barang pada periode dasar.
Setelah mendapatkan nilai IHK, baru nilai inflasi dapat diketahui dengan menggunakan rumus:
Inflasi = (IHK periode 1- IHK periode 2) / IHK periode 2) x 100
Dengan menggunakan rumus tersebut, nilai inflasi dalam suatu negara dapat diketahui dengan tepat. Jadi, saat nilai inflasi berada pada tingkat yang melebihi target, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dapat mengambil langkah tepat agar inflasi tidak semakin memburuk.

Dampak Inflasi Terhadap Perekonomian 

Inflasi
Dampak Inflasi Terhadap Perekonomian
Inflasi memiliki dampak cukup signifikan bagi perekonomian suatu negara, antara lain:
1. Inflasi dapat menggerus daya beli masyarakat. Kalau daya beli turun, masyarakat jadi irit belanja. Padahal motor penggerak ekonomi Indonesia masih ditopang konsumsi masyarakat. Jika masyarakat mengurangi belanja, otomatis pertumbuhan ekonomi nasional akan bergerak ke lambat atau stagnan, bahkan lebih rendah.
2. Inflasi tentu saja merugikan konsumen karena gaji atau penghasilan stagnan, tapi pengeluaran atau belanja membengkak lantaran kenaikan harga barang atau jasa yang menjadi kebutuhan utama.
Promo KPR CIMB Niaga Smart Rate
3. Inflasi juga mempengaruhi kemampuan ekspor sebuah negara. Akibat inflasi, biaya ekspor jadi lebih mahal dan daya saing produk ekspor menurun. Akhirnya devisa jadi berkurang.
4. Inflasi akan mengurangi minat orang menabung di bank. Penyebabnya bunga simpanan tabungan yang kecil tergerus inflasi. Apalagi menabung di bank juga mengeluarkan biaya administrasi setiap bulan, sehingga bunga yang diperoleh nasabah makin minim, bahkan nyaris tak terasa.
5. Inflasi dapat mempengaruhi kestabilan mata uang rupiah. Kestabilan kurs rupiah mengandung dua aspek, yakni kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua berkaca pada perkembangan kurs rupiah terhadap mata uang negara lain.

Peran Pemerintah, BI, dan Masyarakat dalam Mengatasi Inflasi

Inflasia
Dalam mengatasi laju inflasi, biasanya pemerintah dan BI memiliki target tahunan. Tahun ini, inflasi dijaga pada level 3,5 plus minus 1%. Otoritas fiskal dan moneter ini bersinergi dengan mengeluarkan jurus-jurus pengendalian inflasi.
Sebagai contoh, pertama sinergi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan koordinasi komunikasi yang efektif. Kedua, adaptasi dalam inovasi, dan ketiga, pengembangan bisnis model kerja sama perdagangan antar daerah, serta strategi lainnya.  
Masyarakat juga dapat berperan dalam menjaga inflasi. Salah satunya tidak berlebihan atau memborong sembako. Misalnya saat produksi bawang putih merosot, harga melonjak, kemudian masyarakat panik dan akhirnya membeli dalam jumlah banyak

takut kehabisan. Padahal cara tersebut justru dapat mendongkrak kenaikan harga lebih tinggi karena permintaan besar. Jadi bijaklah dalam berbelanja karena pemerintah dan BI akan berupaya keras untuk menjaga inflasi sesuai target.

Cegah Inflasi dengan Kontrol Keuangan yang Baik

Masalah inflasi bisa datang kapan saja. Namun, jika pengelolaan keuangan berdasarkan ilmu akuntansi dilakukan dengan baik, inflasi akan teratasi lebih cepat dan tepat. Untuk itu, pemahaman tentang ilmu ekonomi harus dimiliki guna mengatasi masalah keuangan dengan lebih akurat.

Pengertian Payback Period dan Cara Menghitungnya

Pengertian Payback Period dan Cara Menghitungnya

Pengertian Payback Period dan Cara Menghitungnya – Payback Period adalah periode atau jumlah tahun yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi yang telah dikeluarkan. Payback Period dalam bahasa Indonesia dapat disebut juga dengan Periode Pengembalian Modal. Para Investor atau Pengusaha sering menggunakan Payback Period (PP) atau Periode Pengembalian Modal ini sebagai penentu dalam mengambil keputusan Investasi yaitu keputusan yang menentukan apakah akan menginvestasikan modalnya ke suatu proyek atau tidak. Suatu proyek yang periode pengembaliannya sangat lama tentunya kurang menarik bagi sebagian besar investor.

Cara Menghitung Payback Period

Payback Period = Nilai Investasi / Kas Masuk Bersih
Catatan : Rumus ini mengasumsikan bahwa besarnya kas masuk bersih adalah sama pada setiap periode atau sama pada setiap tahunnya.

Contoh kasus perhitungan Payback Period

Manajemen PT. AAYY sedang mempertimbangkan pembelian mesin produksi komponen elektronika. Dengan membeli Mesin produksi yang berharga Rp. 250 juta ini, keuntungan atau pendapatan bersih didapat dari penambahan mesin tersebut adalah sebesar Rp. 70 juta pertahun. Berapakah Payback Period untuk Mesin Produksi ini?
Penyelesaian
Diketahui :
Nilai Investasi = Rp. 250.000.000,-
Kas Masuk Bersih = Rp. 70.000.000,-
Payback Period = ?
Payback Period = Nilai Investasi / Kas Masuk Bersih
Payback Period = Rp. 250.000.000,-/ Rp. 70.000.000,-
Payback Period = 3,57
Jadi Periode pengembalian modal atau payback period untuk mesin produksi tersebut adalah selama 3,57 tahun.