Sabtu, 07 Desember 2019

Penganggaran Perusahaan

PENGANGGARAN PERUSAHAAN


Definisi penganggaran berbeda dengan anggaran. Penganggaran adalah Proses menyusun anggaran/ suatu proses, sejak dari tahap persiapan yang diperlukan sebelum dimulainya penyusunan rencana, pengumpulan data dan informasi, pembagian tugas,
implementasi dari rencana tersebut, sampai pada tahap pengawasan dan evaluasi. Sedangkan Anggaran (Budget) adalah hasil yang diperoleh setelah menyelesaikan tugas perencanaan atau hasil dari penganggaran tersebut
Setiap perusahaan didirikan dengan tujuan untuk mendapatkan laba yang maksimal, untuk dapat menghasilkan laba yang maksimal maka perusahaan tersebut harus memiliki produk yang dapat dijual kepada masyarakat/konsumen.produk tersebut dapat berupa produk non fisik maupun bahan mentah maupun barang jadi yang siap dikonsumsi. selain produk yang dapat dijual kepada masyarakat, jika perusahaan tersebut ingin meningkatkan jumlah produksinya maka produk tersebut harus barang kebutuhan yang diperlukan oleh konsumen. Untuk mencapai laba perusahaan maka selain dari produk yang dihasilkan juga membutuhkan sumber daya yang memadai untuk menghasilkan produk tersebut. Sumber daya tersebut dapat berupa: tanah, mesin, tenaga kerja, modal, bahan baku dll.
Untuk dapat memiliki sumber daya yang dibutuhkan, perusahaan dapat memperolehnya dari pemilik dalam bentuk setoran modal atau pinjaman dari kreditur. Sedangkan untuk emmperoleh bahan baku untuk proses produksi peruahaan dapat memperolehnya dari pemasok bahan baku. Setelah proses produksi dan menghasilkan barang kemudian dijual kepada konsumen maka perusahaan akan memperoleh laba usaha.
Dalam proses menggunakan sumber daya kemudian menghasilkan produk sampai pada memasarkan produk trsebut perusahaan perlu membuat suatu perencanaan yang baik agar operasi dapat berjalan sehingga bisa mencapai tujuan utama yaitu meperoleh laba maksimum.
Jadi pada dasarnya anggaran ini adalah rencana kerja organisasi atau perusahaan di masa mendatang. Proses penyiapan anggaran inilah yang disebut penganggaran. Beberapa ahli telah mendefinisikan anggaran diantaranaya:
·    Mulyadi (2001): “Merupakan suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif yang diukur dalam satuan moneter standar dan satuan ukuran yang lain yang mencakup jangka waktu satu tahun”
·       M. Nafarin (2004): “Anggaran merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitif dan umumnya dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu”
·    Garrison, Norren and Brewer (2007): “Anggaran adalah rencana terperinci tentang perolehan dan penggunaan sumber daya keuangan dan sumber daya lainnya selama suatu periode waktu tertentu”
Dari definisi angaran diatas dapat disimpulkan bahwa anggaran adalah rencana kerja organisasi atau perusahaan di masa mendatang yang diwujudkan dalam bentuk kuantitatif, formal, dan sistematis.
Rencana kerja perusahaan ditulis dalam bentuk sederetan angka yang merupakan tujuan perusahaan untuk memudahkan anggota organisasi melihat target yang ingin dicapai perusahaan dalam periode tertentu. Rencana tersebut harus diupayakan untuk direalisasikan oleh seluruh anggota. Langkah-langkah positif harus diambil oleh perusahaan untuk mewujudkan apa yang sudah direncanakan dalam anggaran. Anggaran yang sudah dibuat juga harus dapat dikomunikasikan kepada seluruh anggota organisasi dan disusun menggunakan urutan tertentu agar setiap anggota organisasi dapat memahami target yang harus dicapai oleh perusahaan.
Jika dilihat bedasarkan definisi anggaran memiliki kemiripan dengan ramalan dan proyeksi. Tetapi ketiganya memiliki perbedaan. Ramalan merupakan prediksi tentang apa yang akan terjadi, tanpa ada usaha dari peramal untuk mempengaruhi apa yang akan terjadi agar sesuai dengan ramalannya. Mirip dengan anggaran, ramalan merupakan taksiran mengenai apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tetapi ramalan hanya dipengaruhi oleh faktor di luar pembuat ramalan, sedangkan anggaran disusun sebagai sesuatu yang akan dikerjakan perusahaan pada periode tertentu di masa mendatang. Perusahaan juga memiliki kemampuan untuk merealisasikan, merubah atau menggagalkan rencan tersebut. Oleh karena itu faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran ini adalah realistis atau tidaknya. Realistis berarti anggaran di susun sesuai dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki.
Proyeksi adalah perkiraan apa yang akan terjadi jika suatu kondisi atau situasi yang lain terjadi lebih dulu. Jadi proyeksi juga merupakan prediksi tentang sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang, tetapi dengan suatu persyaratan tertentu. Sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi jika peristiwa lain terjadi atau tidak terjadi lebih dulu. Dalam anggaran diperlukan langkah-langkah aktif yang harus diambil oleh organisasi untuk merealisasikan apa yang direncanakan di dalam anggaran.

I.      Ciri-Ciri Anggaran
Tidak setiap rencana kerja dapat disebut sebagai anggaran, karena itu anggaran memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan sekedar rencana, antara lain:
1.   Dinyatakan dalam satuan moneter
Penulisan dalam satuan moneter dapat didukung oleh satuan kuantitatif lain, misalnya unit. Hal ini bertujuan untuk mempermudah memahami rencana tersebut.
2.   Umumnya mencakup kurun waktu satu tahunan
Batasan waktu di dalam penyusunan angaran akan berfungsi untukmembeikan batasan rancana kerja tersebut
3.   Mengandung komitmen manajemen
Disertai upaya oleh berbagai pihak anggota organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
4.   Usulan anggaran disetujui oleh pejabat yang lebih tinggi dari pelaksana anggaran
Harus disetujui oleh pihak atasan/dewan direksi, tidak dapat susun sendiri-sendiri tanpa persetujuan dari atasan pihak penyusun.
5.   Perubahan anggaran (hanya dilakukan apabila ada keadaan khusus)
Hanya boleh diubah jika situasi eksternal dan internal tidak memungkinkan lagi untuk mempertahankan anggaran, tidak setiap saat boleh dirubah
6.   Harus dianalisis penyebabnya
Jika terjadi penyimpangan didalam pelaksanaannya harus dianalisis lebih dalam, tujuannya supaya tidak terulang dimasa yang akan datang & penyusunan lebih relevan lagi



II.    Fungsi dan Pentingnya Anggaran
Dalam upaya untuk mencapai tujuan perusahaan, perusahaan memiliki berbagai fungsi yang berkaitan dengan tujuan tersebut. Fungsi Anggaran berkaitan erat dengan empat fungsi manajemen yang antara lain:
1.   Planning (perencanaan)
Ditetapkan tujuan jangka panjang dan pendek, sasaran, strategi, produk, pemasaran, termasuk didalamnya menetapkan produk, sumber daya serta memasarkan produk tersebut
2.   Organizing (Pengorganisasian)
Setelah perencanaan ditetapkan, maka perusahaan mencari Sumber Daya yang dibutuhkan seperti, modal, bangunan, mesin, SDM untuk menghasilkan produk yang direncanakan dan sebagainya
3.   Actuating (Menggerakkan)
Mengarahkan, mengelola dan menggerakan setiap sumber daya yang ada, agar dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. Setiap sumber daya diarahkan dan dikoordinasikan satu dengan lainnya agar dapat bekerja optimal.
4.   Controlling (Pengendalian)
Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa setiap sumber daya tersebut bekerja sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya menjamin bahwa setiap sumber daya telah bekerja dengan efisien dan efektif.

Berkaitan dengan keempat fungsi utama manajemen tersebut, anggaran memiliki dua fungsi utama, yaitu:
1.   Sebagai alat perencana
Anggaran merupakan rencana kerja yang menjadi pedoman bagi angota dalam bertindak, karena itu dalam fungsi perencanaan, anggaran memiliki beberapa manfaata yang saling terkait satu dengan lainnya, yaitu:
a.   Memberikan pendekatan terarah dan terintegrasi kepada seluruh anggotra
b.   Mengarah pada tujuan umum perusahaan yaitu memperoleh laba usaha
c.    Mendorong semua anggota organisasi berkomitmen mencapai sasaran
d. Mengarahkan penggunaan Sumber Daya pada kegiatan yang menguntungkan
e.    Mendorong pencapaian prestasi tinggi bagi anggota organisasi
2.   Sebagai alat pengendalian
Sebagai bagian dari fungsi pengendalian, anggaran berguna sebagai alat penilai apakah aktivitas organisais telah sesuai dengan rencana atau tidak, karena itu dalam fungsi pengendalian, anggaran memiliki beberapa manfaata yang saling terkait satu dengan lainnya, yaitu
         a.    Menjadi tolak ukur/standar organisasi
  1.  Memberikan kesempatan untuk menilai dan menevaluasi secara sistematis  setiap aspek organisasi
  2. Mendorong pihak manajemen secara dini mengadakan penelaahan terhadap maslaah yang dihadapi.
Pentingnya anggaran dalam perusaaan yaitu:
1.   Masa yang akan datang penuh ketidak pastian
2.   Masa yang akan datang penuh alternatif
3.   Rencana yang dibuat dijadikan pedoman
4.   Rencana yang dibuat dijadikan alat pengkoordinasi
5.   Rencana yang dibuat digunakan sebagai alat pengawasan

III.  Jenis Anggaran
Walaupun anggaran yang harus disusun perusahaan terdiri dari berbagai jenis anggaran, tetapi pada dasarnya anggaran perusahaan dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok anggaran yaitu:
1.   Anggaran Operasional
Rencana kerja perusahaan yang mencakup semua kegiatan utama dalam memperoleh pendapatan.
     a.    Anggaran pendapatan
        rencana yang dibuat perusahaan untuk memperoleh pendapatan pada kurun waktu tertentu
     b.   Anggaran biaya
   Rencana biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan, disusun bedasarkan jenis biaya yang dikeluarkan seperti
- Biaya bahan baku
- Biaya tenaga kerja
- Biaya overhead
- Biaya pemasaran
- Biaya administrasi
     c.    Anggaran laba
   Besarnya laba yang akan diperoleh dalam suatu periode tertentu (anggaran pendapatan & biaya)
2.   Anggaran Keuangan
Berkaitan dengan rencana pendukung aktivitas operasi perusahaan, tidak berkaitan langsung, hanya pendukung
     a.    Anggaran investasi
Membeli barang modal untuk menghasilkan produk di masa yang akan datang
     b.   Anggaran kas
Rencana aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan dalam periode tertentu
    c.    Anggaran Neraca
Kondisi keuangna perusahaan dalam suatu periode tertentu, harta yang diinginkan perusahaan beserta kewajibannya

Dilihat dari kelengkapan anggaran yang disusun oleh suatu organisasi, maka anggaran dapat dokategorikan sebagai:
1.   Anggaran parsial
Anggaran yang terdiri dari satu jenis kelompok kegiatan tertentu
2.   Anggaran komprehensif
Keseluruhan anggaran yang terdiri dari gabungan anggaran parsial dalam peroide tertentu, keseluruhan rencana yang ingin dicapai.

Anggaran dapat pula dikelompokan menurut fleksibilitasnya didalam menghadapi perubahan. Yaitu:
1.   Anggaran fleksibel yaitu Anggaran yang dapat diubah sesuai dengan situasi dan kondisi
2.   Anggaran tetap yaitu anggaran yang tidak dapat dirubah meski terjadi perubahan situasi dan kondisi



IV.  Faktor Yang Mempengaruhi Anggaran
Dalam proses penyusunan anggaran terdapat berbagai pertimbangan yang perlu diperhatikan, baik faktor eksternal maupun internalnya. Beberapa pertimbangan yang menyangkut motivasi berkaitan dengan penyusunan anggaran, antar lain:
1.   Tingkat kesulitan
Anggaran yang terlalu sulit membuat pelaksana tidak bersemangat & anggaran yang terlalu mudah membuat pelaksana tidak berprestasi maksimal
2.   Partisipasi manajemen Puncak
Mananjemen puncak ikut memantau & mengesahkan anggaran, jika tidak akan banyak godaan bagi para pelaksana
3.   Keadilan
Agar efektif, pelaksana harus percaya anggaran yang telah dibuat memang adil, tingkat kesulitan diantara pelaku harus sejajar.
4.   Kesulitan Departemen Anggaran
Dept. Anggaran perlu menganalisis dan yakin informasi yang terkandung didalamnya akurat, tidak mengandung kelonggaran berlebihan
5.   Struktur Organisasi
Anggaran dalam struktur organsiasi memiliki pengaruh besar, lebih bervariasi dalam merencanakan anggarannya
6.   Sumber Daya Persahaan
Pihak manajemen perlu memperhitungkan sumber daya yang ada dalam merealisasikan rencana kerja, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah



V.    Tahap Penysusunan Anggaran
Dalam penganggaran (budgeting) terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui agar anggaran tersebut dapat digunakan oleh organisasi atau instansi. Tahapan tersebut antara lain:
    1.   Penentuan pedoman anggaran
Anggaran yang akan dibuat pada tahun akan datang sebaiknya disiapkan disiapkan bebrapa bulan sebelum tahun anggaran berikutnya dimulai. Sebelum penyusunan anggaran, terlebih dahulu manajemen puncak melakukan dua hal yaitu:
a.    Menetapkan rencana besar perusahaan, seperti tujuan, kebaikan dan asumsi sebagai dasar penyusunan anggaran.
b.   Membentuk panitia penyusun anggaran
    2.   Persiapan anggaran
Dalam persiapan anggaran bagian-bagian yang terkait dengan anggaran mengadakan rapat untuk membuat suatu anggaran, dalam pembuatan suatu anggaran ditentukan juga ramalan penjualan setelah penyusunan ramalan penjualan bagian pemasaran bekerja sama dengan manajer umum dan manajer keuangan untuk menyusun anggaran :
a.    Anggaran Penjualan
b.   Anggaran beban penjualan
c.    Anggaran piutang usaha
Setelah itu manajer produksi bekerja sama dengan manajer keuangan dan umum untuk menyusun :
a.    Anggaran produksi
b.   Anggaran biaya pabrik
c.    Anggaran persediaan
d.   Anggaran piutang usaha
Anggaran tersebut dibuat berdasarkan anggaran penjualan yang dibuat oleh manajer pemasaran. Manajer umum bekerja sama dengan manajer keuangan menyusun Anggaran beban administrasi umum. Setelah itu manajer keuangan bekerja sama dengan manajer lainnya menyusun:
a.    Anggaran laba rugi
b.   Anggaran neraca
c.    Anggaran kas
    3.   Penentuan anggaran
Pada tahap penentuan anggaran semua manajer beserta direksi mengadakan rapat kegiatan:
a.    Perundingan untuk menyesuaikan rencana akhir setiap komponen anggaran
b.   Koordinasi dan peneelaahan komponen anggaran
c.    Pengesahaan dan pendistribusian 
    4.   Pelaksanaan anggaran
Untuk kepentingan pengawasan setiap manajer membuat laporan realisasi aggaran setelah dianalisis kemudian laporan realisasi anggaran disampaikan pada direksi.

Anggaran sangat berpengaruh terhadap jalannya kegiatan operasional produksi, anggaran juga berkaitan juga dengan beberapa fungsi yaitu:
Hubungan Peranggaran dengan Manajemen
Fungsi Manajemen adalah menyusun perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), koordinator (coordinating), dan pengawasan (controling) terhadap orang dan barang, untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pengertian sebelumnya (budget maupun manajemen), dapat disimpulkan bahwa budget sebagai alat bagi manajemen untuk membantu menjalankan fungsi-fungsinya. Namun demikian budget sebagai alat bagi manajemen memiliki kelemahan: yakni:
1.   Budget disusun berdasarkan taksiran-taksira.
2.   Budget disusun dari berbagai data baik yang controlabel dan non controlabel.
3.   Efeftivitas dan efisiensi budget tergantung dari manusia sebagai pelaksana.

Hubungan antara budget dengan Akuntansi
Akuntansi menyajikan data historis yang sangat bermanfaat untuk menghitung (menyiapkan) taksiran-taksiran yang akan dituangkan dalam budget, yang nantikan akan dijadikan sebagai pedoman kerja di waktu yang akan datang. Selanjutnya akutansi akan melakukan pencatatan secara sistematis dan teratur tentang pelaksanaaan budget itu nantinya, dari hari ke hari, dengan demikian akuntansi dapat menyajikan data realisasi pelaksanaan budget secara lengkap.
Sehingga dengan membandingkan antara budget dan catatan akuntansi dapat diketahui apakah perusahaan telah melaksanaakan proses kerja secara efisien atau in-efisisen, efektif atau inefektif, dst, Oleh karena itu semua teknik pencatatan dan semua sistematika yang dipakai dalam akuntansi harus sama dan sejalan dengan teknik serta sistematika yang dipakai dalam budget.

Hubungan antara budget dengan statistika dan matematika
Berhubungan untuk pengolahan data (sebagai penunjang) baik saat penyusunan maupun realisasi dan penganalisaan realisasi budget. Sehingga dapat diketahui penyimpangan positif maupun negatif, sebagai bahan pertimbangan keputusan efisiensi budget.

VI.  Sistem Penanggaran
Ada beberapa cara baik instansi pemerintah atau perusahaan dalam menyusun anggaran untuk proses produksinya diantaranya: 
1.   Sistem anggaran tradisional
Sistem anggaran tradisional adalah sistem anggaran yang berdasarkan jenis-jenis pengeluaran dan penerimaan. Dasar pemikirannya adalah setiap pengeluaran negara harus didasarkan pada perhitungan dan penelitian yang ketat agar tidak terjadi pemborosan dan penyimpangan atas dana yang terbatas. Ciri-ciri sistem anggaran tradisional:
a.    Anggaran diklasifikasikan menurut jenis pengeluaran dan penerimaan.
b.  Berorientasi ke belakang (backward oriented), artinya anggaran tahun sebelumnya dijadikan acuan untuk menyusun anggaran tahun berjalan.
c. Bersifat incremental karena memasukkan unsur tambahan/marjinal terhadap anggaran tahun yang lalu sebagai dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya.
d.   Menitik beratkan pada input dari semua kegiatan daripada outputnya.

2.   Anggaran berbasis kinerja (performance budgeting system)
Anggaran berbasis kinerja merupakan pendekatan penyusunan anggaran berdasarkan beban kerja dan unit cost data ke dalam setiap kegiatan yang terstruktur dalam suatu program untuk mencapai tujuan. Dasar pemikirannya adalah penganggaran harus dapat digunakan sebagai alat menajemen sehingga penyusunan anggaran harus dapat memberikan hasil yang berguna bagi pengambilan keputusan manajerial (legislatif/eksekutif). Oleh karena itu, anggaran harus dianggap sebagai program kerja.Anggaran berbasis kinerja memusatkan perhatian pada pengukuran efisiensi hasil kerja dengan tujuan memaksimumkan output yang dapat dihasilkan dari input tertentu. Tiga unsur pokok anggaran berbasis kinerja, yaitu:
a.   Pengeluaran pemerintah dikelompokkan menurut program dan kegiatan
b.  Performance measurement (pengukuran hasil kerja)
c.   Program reporting (pelaporan program)
Ciri-ciri anggaran berbasis kinerja:
a.   Klasifikasi anggaran didasarkan pada program dan kegiatan
b. Penekanan pada pengukuran hasil kerja dan bukan pada aspek pengawasan
c.   Setiap kegiatan harus dilihat dari segi efisiensi dengan memaksimalkan output
d.  Memerlukan standar pengukuran hasil kinerja

3.   Zero-based budgeting (ZBB)
ZBB adalah sistem anggaran yang mengasumsikan bahwa kegiatan pada tahun anggaran yang bersangkutan dianggap berdiri sendiri, tidak ada kaitannya dengan anggaran yang lalu. Dasar pemikirannya adalah anggaran tidak selalu didasarkan pada kegiatan di masa yang lalu tetapi anggaran harus diciptakan dari sesuatu yang sedang atau akan dilakukan. Setiap kegiatan harus dapat diformulasikan ke dalam paket keputusan (decision package). ZBB lebih memusatkan perhatian pada sasaran untuk memperbaiki manajemen melalui perbaikan pelayanan manajerial dengan menekankan penilaian atas permintaan pendanaan unit-unit pelaksana. Langkah-langkah penyusunan ZBB:
a.   Penentuan keputusan manajemen
b.  Pembentukan paket keputusan
c.   Konsolidasi skala prioritas
d.  Alokasi dana
Karakteristik ZBB:
1.   Dimulai dari kondisi belum adanya sumber daya
2.   Perlu dibuat urutan terhadap tujuan-tujuan dan program-program organisasi
3.   Memerlukan perhatian terhadap prioritas operasi entitas dan alternatif-alternatifnya.

4.   Planning, programming, and budgeting system (PPBS)
PPBS merupakan proses perencanaan, penyusunan program, dan penganggaran suatu organisasi yang diikat dalam satu sistem sebagai satu kesatuan yang terpadu, bulat, dan tidak terpisahkan. Dasar pemikirannya adalah anggaran merupakan hasil kerja dari suatu proses kegiatan-kegiatan perencanaan yang dituangkan dalam program. Ciri-ciri pokok PPBS lebih bersifat:
a.   Analistis
b.  Projektif
c.   Programatis
Sasaran utama dari PPBS adalah:
a.   Membantu pemimpin dalam membuat keputusan menyangkut usaha-usaha untuk mencapai tujuan
b. Merasionalkan penggunaan sumber-sumber yang terbatas untuk mencapai tujuan sehingga dapat berdaya guna dan berhasil guna
c.   Sinkronisasi dan integrasi aparat organisasi dalam proses perencanaan
d.  Untuk menjamin komitmen perencanaan tiap-tiap tahun, yaitu anggaran tahunan yang berdasarkan rencana jangka menengah dan rencana jangka panjang.

accounting-media.blogspot.co.id/2013/06/tahap-tahap-penyusunan-anggaran.html
khanif-gitu.blogspot.co.id/2010/06/materi-peranggaran-perusahaan-budgeting.html
slideshare.net/iyonZ/penyusunan-anggaran
kinanzahirah.wordpress.com/2012/10/03/penganggaran/
ronyastrajingga.blogspot.co.id/2014/01/penganggaran-perusahaan.html
M. Nafarin, 2000, Penganggaran Perusahaan, Salemba 4, Jakarta
Rudianto, 2009, Penanggaran Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran, Erlangga, Jakarta

Perkembangan 3P menjadi 7P

Perkembangan 3P menjadi 7P

Dalam sebuah perusahaan atau dalam kita berbisnis, ada empat bagian dari perusahaan tersebut yang tidak bisa kita tinggalkan begitu saja. Karena keempat bagian ini adalah tulang punggung dalam suatu perusahaan. Empat bagian tersebut adalah :
1.      Departemen Pemasaran
2.      Departemen Produksi
3.      Departemen Keuangan
4.      Departemen SDM
Empat bagian tersebut memiliki peranan penting dalam kita berbisnis. Tidak hanya mereka menjadi tulang punggung perusahaan, tetapi empat bagian ini adalah otak dalam suatu perusahaan agar mereka mendapatkan profit (laba) yang sebesar-besarnya.
Oleh sebab itu, pemasaran sangat berperan penting untuk kemajuan sebuah bisnis. Tak pernah dipungkiri bahwa pemasaran masih memiliki peran penting dalam sebuah bisnis. Dengan adanya pemasaran dapat membantu memberikan informasi mengenai barang atau jasa yang ditawarkan sebuah perusahaan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen  sesuai dengan sasaran pasar. Karena produk barang atau jasa akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi, jika kita dapat menyediakan apa yang konsumen inginkan. Pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen membutuhkan konsep pemasaran yang biasa disebut dengan istilah marketing mix. Marketing mix merupakan kombinasi dari empat variable penting dari konsep pemasaran yang dapat dikendalikan oleh perusahaan. Empat variable atau kegiatan inti tersebut meliputi produk ( product ), harga ( price ), tempat ( place ), dan promosi ( promotion ), dan biasa disingkat dengan 4P. Namun karena pemasaran bukan ilmu pasti, kini marketing mix telah berkembang sesuai dengan kondisi pasar menjadi 7P dimana 3P selanjutnya yaitu proses (process), orang (people), dan bukti fisik (physical evidence).
Mungkin untuk sebagian orang 7P yang dimaksud diatas sangat asing dan jarang sekali didengar. Oleh sebab itu, berikut pembahasan singkat mengenai 7P dalam marketing mix:
1.      Product (produl)
Product adalah segala sesuatu ( barang atau jasa ) yang ditawarkan kepada masyarakat untuk mendapatkan perhatian, pembelian, atau dikonsumsi guna memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Bukan hanya kualitas produk yang dibutuhkan konsumen, namun sistem pelayanan yang diberikan dan desain produk yang menarik juga memberikan nilai lebih pada konsumen untuk membeli atau mengkonsumsi suatu produk.
2.      Price (harga)
Price adalah sejumlah uang yang harus dibayar konsumen untuk mendapatkan sebuah produk atau jasa. Atau dapat juga diartikan sebagai nilai tukar untuk memperoleh keuntungan dari produk atau jasa yang dibutuhkan. Harga merupakan salah satu variable marketing mix yang bersifat fleksibel, terkadang bisa stabil dalam beberapa waktu dengan harga tertentu namun bisa tiba-tiba meningkat atau turun tajam disesuaikan dengan kondisi permintaan pasar.
3.      Place (tempat)
Place merupakan kegiatan bisnis untuk membuat produk atau jasa yang ditawarkan lebih mudah terjangkau oleh konsumen, dan dapat tersedia pada sasaran pasar yang tepat. Variabel tempat juga meliputi saluran distribusi untuk menjangkau konsumen yang tersebar luas. Sehingga beberapa perusahaan membuka kantor cabang di daerah – daerah untuk memudahkan konsumennya.
4.      Promotion (promosi)
Promotion adalah kegiatan untuk memperkenalkan suatu produk atau jasa pada pasar sasaran, untuk membangun persepsi pelanggan mengenai produka atau jasa yang ditawarkan. Konsep promosi yang biasa digunakan antara lain advertising, public relation, sales promotion, personal selling, serta direct marketing.
5.      Process (proses)
Process adalah serangkaian tindakan yang diperlukan untuk memberikan produk atau jasa dengan pelayanan yang terbaik kepada konsumen. Suatu proses bisa berisi tentang metode atau prosedur yang diberlakukan untuk memperoleh produk yang dibutuhkan konsumen. Proses pelayanan yang cepat, mudah dan ramah memberikan nilai lebih konsumen terhadap suatu produk.
6.      People (orang)
People adalah semua orang yang terlibat dalam kegiatan memproduksi produk serta memberikan pelayanan produk kepada konsumen. Orang yang memproduksi dan memasarkan suatu produk juga memiliki penilaian dimata konsumen.
7.      Physical evidence ( bukti fisik )
Physical evidence adalah perangkat – perangkat yang dibutuhkan untuk mendukung penampilan suatu produk, sehingga memperlihatkan secara langsung kualitas produk serta pelayanan yang diberikan kepada konsumen.

Pengertian Balance Scorecard dan 4 Perspektifnya

Pengertian dan 4 Perspektif Balanced Scorecard

Balanced Scorecard adalah suatu konsep pengukuran kinerja bisnis yang menyeimbangkan pengukuran atas kinerja sebuah organisasi bisnis yang selama ini dianggap terlalu condong pada kinerja keuangan. Sebelum munculnya konsep balanced scorecard, yang umum dipergunakan dalam perusahaan selama ini adalah pengukuran kinerja tradisional yang hanya menitikberatkan pada sektor keuangan saja.

Pengukuran kinerja tradisional tersebut menyebabkan orientasi perusahaan hanya pada keuntungan jangka pendek dan cenderung mengabaikan kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang. Pengukuran kinerja yang menitikberatkan pada sektor keuangan saja kurang mampu mengukur kinerja harta-harta tak tampak (intangible assets) dan harta-harta intelektual (sumber daya manusia) perusahaan.

Secara umum, terdapat empat macam kinerja bisnis yang diukur dalam balanced scorecard, yaitu:
  • Perspektif keuangan
  • Perspektif pelanggan atau konsumen
  • Perspektif proses internal bisnis
  • Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan
4 Perspektif Balanced Scorecard tersebut masing-masing dapat dijelaskan berikut ini.
A. PERSPEKTIF KEUANGAN (Financial Perspective)

Perspektif keuangan tetap digunakan dalam Balance Scorecard, karena ukuran keuangan menunjukkan apakah perencanaan dan pelaksanaan strategi perusahaan memberikan perbaikan atau tidak bagi peningkatan keuntungan perusahaan. Perbaikan-perbaikan ini tercermin dalam sasaran-sasaran yang secara khusus berhubungan dengan keuntungan yang terukur, pertumbuhan usaha, dan nilai pemegang saham.

Pengukuran kinerja keuangan mempertimbangkan adanya tahapan dari siklus kehidupan bisnis, yaitu: growth, sustain, dan harvest (Kaplan dan Norton, 2001). Tiap tahapan memiliki sasaran yang berbeda, sehingga penekanan pengukurannya pun berbeda pula.

1. Growth (bertumbuh)

Tahap pertumbuhan menjadi tahap awal dalam siklus kehidupan bisnis. Pada tahap ini perusahaan berusaha untuk menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan pertumbuhan bisnisnya. Selain itu, perusahaan akan menanamkan investasi sebanyak-banyaknya, meningkatkan produk baru, membangun fasilitas produksi, meningkatkan kemampuan beroperasi, merebut pangsa pasar, dan membuat jaringan distribusi. Di dalam tahap ini kemungkinan besar perusahaan akan selalu dalam keadaan rugi, karena tahap ini perusahaan memfokuskan untuk penanaman investasi yang dinikmati dalam jangka panjang nanti.

2. Sustain (bertahan)

adalah tahapan kedua di mana perusahaan masih melakukan investasi dan reinvestasi dengan mengisyaratkan tingkat pengembalian terbaik. Pada tahap ini perusahaan masih mempunyai daya tarik yang bagus bagi para investor untuk menanamkan modalnya. Dalam tahap ini perusahaan harus mampu mempertahankan pangsa pasar yang sudah dimiliki dan harus memperhatikan kualitas produk dan pelayanan yang lebih baik sehingga secara bertahap akan mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun.

Tujuan keuangan pada tahap ini biasanya lebih berorientasi pada profitabilitas. Tujuan yang berkaitan dengan profitabilitas dapat dinyatakan dengan menggunakan ukuran yang berkaitan dengan laba operasional. Untuk mendapatkan profitabilitas yang baik tentunya para manajer harus bekerja keras untuk memaksimalkan pendapat yang dihasilkan dari investasi modal, sedangkan untuk unit bisnis yang telah memiliki otonomi diminta tidak hanya mengelola arus pendapatan, tetapi juga tingkat investasi modal yang telah ditanamkan dalam unit bisnis yang bersangkutan. Tolak ukur lain yang kerap digunakan pada tahap ini, misalnya ROI, profit margin, dan operating ratio.
3. Harvest (Menuai)

Tahap ini merupakan tahap pendewasaan bagi sebuah perusahaan, karena pada tahap ini perusahaan tinggal menuai dari investasi yang dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya, yang harus dilakukan pada tahap ini adalah perusahaan tidak lagi melakukan investasi, tetapi hanya memelihara supaya perusahaan berjalan dengan baik.

B. PERSPEKTIF PELANGGAN (Customer Perspective)

Filosofi manajemen terkini telah menunjukkan peningkatan pengakuan atas pentingnya konsumen focus dan konsumen satisfaction. Perspektif ini merupakanleading indicator. Jadi, jika pelanggan tidak puas maka mereka akan mencari produsen lain yang sesuai dengan kebutuha n mereka. Kinerja yang buruk dariperspektif ini akan menurunkan jumlah pelanggan di masa depan meskipun saat ini kinerja keuangan terlihat baik.

Oleh Kaplan dan Norton (2001) perspektif pelanggan dibagi menjadi dua kelompok pengukuran, yaitu: customer core measurement dan customer value prepositions. Customer Core Measurement memiliki beberapa komponen pengukuran, yaitu:
  1. Market Share (pangsa pasar); Pengukuran ini mencerminkan bagian yang dikuasai perusahaan atas keseluruhan pasar yang ada, yang meliputi: jumlah pelanggan, jumlah penjualan, dan volume unit penjualan.
  2. Customer Retention (retensi pelanggan); Mengukur tingkat di mana perusahaan dapat mempertahankan hubungan dengan konsumen.
  3. Customer Acquisition (akuisisi pelanggan); mengukur tingkat di mana suatu unit bisnis mampu menarik pelanggan baru atau memenangkan bisnis baru.
  4. Customer Satisfaction (kepuasan pelanggan); Menaksir tingkat kepuasan pelanggan terkait dengan kriteria kinerja spesifik dalam value proposition.
  5. Customer Profitability (profitabilitas pelanggan); mengukur keuntungan yang diperoleh perusahaan dari penjualan produk atau jasa kepada konsumen.
  6. C. PERSPEKTIF PROSES BISNIS INTERNAL (Internal Business Process Perspective)
    Analisis proses bisnis internal perusahaan dilakukan dengan menggunakan analisis value-chain. Disini manajemen mengidentifikasi proses internal bisnis yang kritis yang harus diunggulkan perusahaan. Scorecard dalam perspektif ini memungkinkan manajer untuk mengetahui seberapa baik bisnis mereka berjalan dan apakah produk dan atau jasa mereka sesuai dengan spesifikasi pelanggan. Perspektif ini harus didesain dengan hati-hati oleh mereka yang paling mengetahui misi perusahaan yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh konsultan luar.

    Kaplan dan Norton (1996) membagi proses bisnis internal ke dalam tiga tahapan, yaitu:

    1. Proses inovasi

    Dalam proses penciptaan nilai tambah bagi pelanggan, proses inovasi merupakan salah satu kritikal proses, dimana efisiensi dan efektifitas serta ketepatan waktu dari proses inovasi ini akan mendorong terjadinya efisiensi biaya pada proses penciptaan nilat tambah bagi pelanggan. Dalam proses ini, unit bisnis menggali pemahaman tentang kebutuhan dari pelanggan dan menciptakan produk dan jasa yang mereka butuhkan. Proses inovasi dalam perusahaan biasanya dilakukan oleh bagian marketing sehingga setiap keputusan pengeluaran suatu produk ke pasar telah memenuhi syarat-syarat pemasaran dan dapat dikomersialkan (didasarkan pada kebutuhan pasar). Aktivitas marketing inimerupakan aktivitas penting dalam menentukan kesuksesan perusahaan, terutama untuk jangka panjang.

    2. Proses Operasi

    Proses operasi adalah proses untuk membuat dan menyampaikan produk atau jasa. Aktivitas di dalam proses operasi terbagi ke dalam dua bagian: 1) proses pembuatan produk, dan 2) proses penyampaian produk kepada pelanggan. Pengukuran kinerja yang terkait dalam proses operasi dikelompokkan pada waktu, kualitas, dan biaya.

    3. Proses Pelayanan Purna Jual

    Proses ini merupakan jasa pelaya nan pada pelanggan setelah penjualan produk/jasa tersebut dilakukan. Aktivitas yang terjadi dalam tahapan ini, misalnya penanganan garansi dan perbai kan penanganan atas barang rusak dan yang dikembalikan serta pemrosesan pembayaran pelanggan. Perusahaan dapat mengukur apakah upayanya dalam pelaya nan purna jual ini telah memenuhi harapan pelanggan, dengan menggunakan tolak ukur yang bersifat kualitas, biaya, dan waktu seperti yang dilakukan dalam proses operasi. Untuk siklus waktu, perusahaan dapat menggunakan pengukuran waktu dari saat keluhan pelanggan diterima hingga keluhan tersebut diselesaikan.
  7. D. PERSPEKTIF PEMBELAJARAN & PERTUMBUHAN (Learning & Growth Perspective)
    Proses ini mengidentifikasi infrastruktur yang harus dibangun perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan kinerja jangka panjang. Proses pembelajaran dan pertumbuhan ini bersumber dari faktor sumber daya manusia, sistem, dan prosedur organisasi. Yang termasuk dalam perspektif ini adalah pelatihan pegawai dan budaya perusahaan yang berhubungan dengan perbaikan individu dan organisasi.

    Hasil dari pengukuran ketiga perspektif balanced scorecard sebelumnya biasanya akan menunjukkan kesenjangan yang besar antara kemampuan orang, sistem, dan prosedur yang ada saat ini dengan yang dibutuhkan untuk mencapai kinerja yang diinginkan. Inilah alasan mengapa perusahaan harus melakukan investasi di ketigafaktor tersebut untuk mendorong perusahaan menjadi sebuah organisasi pembelajar (learning organization).


    Dalam perspektif ini, ada faktor-faktor penting yang harus diperhatikan, yaitu:

    1. Kapabilitas pekerja

    Dalam hal ini manajemen dituntut untuk memperbaiki pemikiran pegawai terhadap organisasi, yaitu bagaimana para pegawai menyumbangkan segenap kemampuannya untuk organisasi. Untuk itu perencanaan dan upaya implementasi reskilling pegawai yang menjamin kecerdasan dan kreativitasnya dapat dimobilisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

    2. Kapabilitas system informasi

    Bagaimanapun juga, meski motivasi dan keahlian pegawai telah mendukung pencapaian tujuan-tujuan perusahaan, masih diperlukan informasi-informasi yang terbaik. Dengan kemampuan sistem informasi yang memadai, kebutuhan seluruh tingkatan manajemen dan pegawai atas in formasi yang akurat dan tepat waktu dapat dipenuhi dengan sebaik-baiknya.

    3. Motivasi, kekuasaan dan keselarasan

    Perspektif ini penting untuk menjamin adanya proses yang berkesinambungan terhadap upaya pemberian motivasi dan inisiatif yang sebe sar-besarnya bagi pegawai. Paradigma manajemen terbaru menjelaskan bahwa proses pembelajaran sangat penting bagi pegawai untuk melakukan trial and error sehingga turbulensi lingkungan sama-sama dicoba-kenali tidak saja oleh jenjang manajemen strategis tetapi juga oleh segenap pegawai di dalam organisasi sesuai kompetensinya masing-masing. Upaya tersebut perlu didukung dengan motivasi yang besar dan pemberdayaan pegawai berupa delegasi wewenang yang memadai untuk mengambil keputusan. Selain itu, upaya tersebut juga harus dibarengi dengan upaya penyesuaian yang terus menerus yang sejalan dengan tujuan organisasi.

Pengertian BEP, Cara Menghitung dan Contohnya